Persib Mah Bahasa Hate: Saat Biru Menjelma Menjadi Bahasa, Bukan Sekadar Warna

Sebab bagi sebagian orang, Persib bukan hanya ditonton. Ia dikenang, dirayakan, dan diwariskan.

Persib Mah Bahasa Hate

Malam itu seorang anak kecil berdiri di atas atap mobil pikap.

Tangannya terlalu pendek untuk mengibarkan bendera dengan sempurna. Namun itu tidak penting. Di sekelilingnya, ribuan orang melakukan hal yang sama. Ada yang meniup peluit, ada yang menyanyikan lagu tribun, ada pula yang sekadar tersenyum sambil merekam suasana dengan telepon genggam.

Di antara keramaian tersebut, seorang pria berambut putih terlihat berdiri di tepi jalan. Ia tidak ikut bernyanyi. Tidak pula ikut konvoi. Hanya memperhatikan arus manusia yang terus bergerak seperti sungai yang meluap setelah hujan panjang.

Sesekali ia tersenyum. Seolah sedang mengenang sesuatu.

Barangkali pertandingan yang pernah ditontonnya puluhan tahun lalu, sebuah perjalanan ke stadion yang kini sudah berubah wajah. Atau mungkin ia sedang menyaksikan sebuah cerita yang terus berulang dari generasi ke generasi.

Di momen seperti itulah satu kalimat terasa masuk akal.

Persib mah bahasa hate

Tidak semua cinta membutuhkan penjelasan. Ada yang tumbuh perlahan, menetap begitu lama, lalu menjadi bagian dari keseharian tanpa pernah disadari.

Persib hadir dengan cara seperti itu.

Ia hidup di obrolan warung kopi sebelum matahari benar-benar terbit. Namanya muncul di meja makan keluarga. Menyelip di antara percakapan tentang pekerjaan, sekolah anak, atau harga kebutuhan pokok yang semakin naik.

Kadang ia muncul dalam bentuk yang sangat sederhana. Stiker yang mulai pudar di kaca belakang kendaraan. Jersey lama yang warnanya tak lagi seterang dulu. Radio yang volumenya diperbesar saat pertandingan berlangsung.

Benda-benda kecil yang tampak biasa, tetapi menyimpan hubungan panjang yang tak mudah diputus oleh waktu.

Mungkin itu sebabnya euforia Persib selalu terasa berbeda. Yang turun ke jalan bukan hanya mereka yang hafal susunan pemain atau mengikuti setiap pertandingan.

Ada anak-anak yang bahkan belum memahami arti klasemen. Rombongan ibu-ibu yang lebih mengenal nama pemain dari cerita suaminya.

Ada para perantau yang tiba-tiba merasa lebih dekat dengan rumah setiap kali melihat warna biru memenuhi linimasa. Mereka datang dari latar yang berbeda, tetapi menemukan alasan yang sama untuk tersenyum.

Sepak bola jarang mampu menciptakan ruang seperti itu.

Persib bisa.

Bahasa yang Tidak Pernah Diajarkan

Menariknya, hubungan ini tidak dibangun oleh trofi semata. Jika ukuran cinta hanyalah gelar juara, dunia sepak bola tentu hanya akan mengenang segelintir klub saja.

Namun kenyataannya tidak demikian.

Orang-orang tetap bertahan bahkan saat musim berjalan sulit. Mereka tetap datang ketika hujan turun. Setia menunggu kabar pertandingan. Tetap membicarakannya di sela kesibukan yang semakin padat.

Karena yang mereka rawat bukan sekadar hasil akhir. Melainkan cerita. Dan cerita selalu punya daya hidup yang lebih panjang daripada urutan angka.

Di tanah Pasundan, Persib telah lama keluar dari batas pagar stadion. Ia menemukan tempat tinggal baru di gang-gang sempit, lapangan kampung, kios pinggir jalan, hingga ruang tamu rumah-rumah sederhana.

Seorang ayah mewariskan kecintaannya kepada anaknya bukan melalui pidato panjang. Cukup dengan mengajaknya menonton pertandingan. Membelikan syal pertama. Atau menceritakan nama-nama pemain yang pernah membuatnya jatuh cinta pada sepak bola.

Begitulah tradisi bekerja.

Ia bergerak diam-diam. Tanpa seremoni. Tanpa pengakuan resmi. Namun terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, warna biru akhirnya mengalami perjalanan yang unik. Awalnya hanya pilihan desain pada selembar jersey. Lalu berubah menjadi lambang kebanggaan.

Seiring waktu, ia berkembang menjadi penanda yang dipahami tanpa perlu diperkenalkan. Dua orang asing bisa memulai percakapan hanya karena mengenakan warna yang sama. Seorang perantau bisa merasa sedikit lebih dekat dengan kampung halamannya hanya karena melihat logo yang familiar di sudut kota yang jauh.

Biru berhenti menjadi warna. Ia mulai berbicara.

Sebuah Cerita yang Tak Pernah Usang

Barangkali di situlah makna sesungguhnya dari ungkapan yang begitu akrab di telinga masyarakat Sunda itu. Bahasa biasanya lahir dari kata-kata. Namun tidak semua hal penting di dunia ini disampaikan melalui kalimat.

Ada yang hadir dalam nyanyian tribun.

Selebrasi spontan yang muncul dari pelukan setelah gol tercipta.

Ada yang hidup di antara ribuan langkah yang memenuhi jalanan hingga larut malam.

Tak seorang pun memerintah mereka untuk datang. Tak ada yang mewajibkan mereka merayakan. Namun mereka tetap hadir. Seolah memahami pesan yang sama tanpa perlu dijelaskan.

Suatu hari para pemain yang hari ini dielu-elukan akan meninggalkan lapangan. Pelatih berganti. Sponsor berubah. Bahkan stadion mungkin akan terlihat berbeda dibanding yang kita kenal sekarang.

Namun ada satu hal yang tampaknya akan tetap bertahan.

Seorang anak yang berdiri di pinggir jalan sambil memegang bendera biru. Lalu beberapa tahun kemudian mengajak anaknya melakukan hal yang sama. Di situlah sebuah kisah menemukan cara untuk hidup lebih lama daripada siapa pun yang pernah menjadi bagian darinya.

Dan mungkin karena alasan itulah, bagi sebagian orang, Persib tak pernah benar-benar sekadar klub sepak bola. Ia adalah cara mengenang rumah.

Cara mengenali sesama.

Cara merawat cerita yang diwariskan tanpa pernah diminta.

Sebab pada akhirnya, ada warna yang hanya bisa dilihat oleh mata. Ada pula warna yang dipahami oleh hati. Biru termasuk yang kedua.

Persib mah bahasa hate.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *